ISTILAH-ISTILAH ADAT MANGGARAI
1. Gerap ruha / injak telur
artinya : penerimaan pengantin baru (ata podo) penerimaan pertama kali di kampung tunangan lelaki / orang tua
2. Pentang pitak
artinya : membersihkan debu atau membersihkan adat istiadat di kampung wanita atau ada permasalahan di kampung wanita / orang tua wanita jangan dibawa kepada lelaki atau orang tua lelaki.
3. Beling watau wali
artinya : segala barang dari lelaki / orang tua lelaki atau kedatangan anak rona diberi uang secukupnya atau membalas bawaan berupa babi, beras, atau kain atau pulang pesta traga malam.
4. Saung ta’a = pesta tiga malam
5. Tudak mbukuk = upacara untuk mengikat semua janji agar tidak berubah atau ingkar
6. Compang = tempat untuk persembahanuntuk para leluhur (nenek moyang)
7. Tongka = pembukaan pembicaraan saat meminang seorang perempuan oleh seorang laki-laki.
8. Penti = pembukaan musim tanam dalam tahun perjanjian atau tahun baru
9. Kumpul kope = kumpul uang
10. Kope bakole = persetujuan pinang wanita tidak setuju
Selamat datang di blog ini. Berisi informasi tentang BUDAYA, BUNDU/teka-teki, HIERARKI GENDANG, TOMBO TURUK, SUNGKE, IRENG, ADAK, IMBI DATA TU'A, dan berbagai hal tentang adat budaya tanah Manggarai - Flores - NTT
Minggu, 11 Maret 2012
Liang Bua
LIANG BUA
A. Pengertian Liang Bua
Liang Bua terdiri dari dua kata, yaitu Liang dan Bua. Liang berarti gua dan bua berarti dingin. Jadi Liang Bua merupakan suatu tempat peninggalan bersejarah pada masa purbakala, dimana atau tempatnya sangat dingin dan sejuk.
B. Letak Liang Bua
Liang Bua terletak di daerah perbukitan kapur di wilayah Kabupaten Manggarai, Flores. Meskipun sebagian besar wilayahnya berupa perbukitan kapur, akan tetapi daerah ini cukup subur, bahkan Manggarai sejak dulu dikenal sebagai salah satu lumbung padi untuk wilayah Flores.
Di samping memiliki potensi sumber daya alam yang menarik, Manggarai ternyata juga memiliki potensi sumber daya arkeologi yang mengagumkan. Hal tersebut dengan adanya arkeologi yang tersebar luas di daerah ini. Salah satu diantaranya adalah situs Liang Bua. Situs ini terletak di desa Liang Bua Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai, sekitar 14 km dari utara kota Ruteng.
C. Penelitian di Liang Bua
Penelitian di Liang Bua pertama kali dilakukan oleh Theodorus Verhoeven, missionaris yang mengajar di Seminari Mataloko, Ngada tahun 1965. Ketika berkunjung di Liang Bua, gua tersebut masih digunakan untuk sekolah bagi anak-anak di sekitar Liang Bua. Hasil penelitian Verhoeven menggambarkan bahwa Liang Bua mengandung jejak kehidupan manusia yang berasosiasi dengan artefak batu dan tembikar.
Setelah Verhoeven, penelitian dilanjutkan oleh Prof. Dr. R.P. Soejono dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (sekarang Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional) tahun 1978 – 1989. Hasil penelitian tersebut memperlihatkan bahwa situs Liang Bua telah dihuni sejak masa prasejarah, mulai dari masa paleolitik, mesolitik, neolitik, hingga masa paleometalik (logam awal). Berdasarkan hasil pertanggalan (dating) C14 dari kedalaman 3 meter diketahui bahwa Liang Bua telah dihuni oleh manusia modern sejak 10.000 tahun yang lalu.
Setelah mengalami kevakuman selama 12 tahun, maka atas prakarasa Prof. Dr. R.P. Soejono (Puslitbang-Arkenas) dan Prof. Mike Morwood (Universitas New England, Australia), diadakan kerjasama untuk melanjutkan penelitian di Liang Bua, antara 2001 – 2004. Selaku koordinator penelitian adalah Thomas Sutikna bersifat imerdisiplioner, melibatkan ahli dari berbagai disiplin ilmu, antara lain: arkeologi, geologi, geomorfologi, geokronologi, paleontologi, palinologi, dsb. Fokus penelitian diarahkan untuk memperoleh gambaran lengkap tentang kepurbakalaan situs Liang Bua. Penelitian gabungan ini melakukan penggalian hingga mencapai kedalaman 10,7 meter tanpa menemukan lapisan gua.
D. Penemuan Bersejarah
Di bawah lapisan tufa vulkanik yang berumur sekitar 11.000 tahun ditemukan lapisan budaya lagi yang mengandung artefak batu dan tulang-tulang binatang seperti stegodon (gajah purba), komodo, kura-kura, tikus, burung, dsb.
Di samping itu, ditemukan pula rangka manusia kerdil yang kemudian diberi nama Homo Florensiesis di kedalaman 6 meter yang berasal dari sekitar 18.000 tahun yang lalu. Manusia kerdil ini berjenis kelamin perempuan berumur sekitar 30 tahun, tinggi sekitar 106cm, volume otak sekitar 380cc (dibandingkan dengan otak manusia modern yang minimum memiliki volume otak 1200cc). Secara keseluruhan, lapisan yang mengandung temuan-temuan tersebut berumur antara 95.000 – 12.000 tahun yang lalu.
A. Pengertian Liang Bua
Liang Bua terdiri dari dua kata, yaitu Liang dan Bua. Liang berarti gua dan bua berarti dingin. Jadi Liang Bua merupakan suatu tempat peninggalan bersejarah pada masa purbakala, dimana atau tempatnya sangat dingin dan sejuk.
B. Letak Liang Bua
Liang Bua terletak di daerah perbukitan kapur di wilayah Kabupaten Manggarai, Flores. Meskipun sebagian besar wilayahnya berupa perbukitan kapur, akan tetapi daerah ini cukup subur, bahkan Manggarai sejak dulu dikenal sebagai salah satu lumbung padi untuk wilayah Flores.
Di samping memiliki potensi sumber daya alam yang menarik, Manggarai ternyata juga memiliki potensi sumber daya arkeologi yang mengagumkan. Hal tersebut dengan adanya arkeologi yang tersebar luas di daerah ini. Salah satu diantaranya adalah situs Liang Bua. Situs ini terletak di desa Liang Bua Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai, sekitar 14 km dari utara kota Ruteng.
C. Penelitian di Liang Bua
Penelitian di Liang Bua pertama kali dilakukan oleh Theodorus Verhoeven, missionaris yang mengajar di Seminari Mataloko, Ngada tahun 1965. Ketika berkunjung di Liang Bua, gua tersebut masih digunakan untuk sekolah bagi anak-anak di sekitar Liang Bua. Hasil penelitian Verhoeven menggambarkan bahwa Liang Bua mengandung jejak kehidupan manusia yang berasosiasi dengan artefak batu dan tembikar.
Setelah Verhoeven, penelitian dilanjutkan oleh Prof. Dr. R.P. Soejono dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (sekarang Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional) tahun 1978 – 1989. Hasil penelitian tersebut memperlihatkan bahwa situs Liang Bua telah dihuni sejak masa prasejarah, mulai dari masa paleolitik, mesolitik, neolitik, hingga masa paleometalik (logam awal). Berdasarkan hasil pertanggalan (dating) C14 dari kedalaman 3 meter diketahui bahwa Liang Bua telah dihuni oleh manusia modern sejak 10.000 tahun yang lalu.
Setelah mengalami kevakuman selama 12 tahun, maka atas prakarasa Prof. Dr. R.P. Soejono (Puslitbang-Arkenas) dan Prof. Mike Morwood (Universitas New England, Australia), diadakan kerjasama untuk melanjutkan penelitian di Liang Bua, antara 2001 – 2004. Selaku koordinator penelitian adalah Thomas Sutikna bersifat imerdisiplioner, melibatkan ahli dari berbagai disiplin ilmu, antara lain: arkeologi, geologi, geomorfologi, geokronologi, paleontologi, palinologi, dsb. Fokus penelitian diarahkan untuk memperoleh gambaran lengkap tentang kepurbakalaan situs Liang Bua. Penelitian gabungan ini melakukan penggalian hingga mencapai kedalaman 10,7 meter tanpa menemukan lapisan gua.
D. Penemuan Bersejarah
Di bawah lapisan tufa vulkanik yang berumur sekitar 11.000 tahun ditemukan lapisan budaya lagi yang mengandung artefak batu dan tulang-tulang binatang seperti stegodon (gajah purba), komodo, kura-kura, tikus, burung, dsb.
Di samping itu, ditemukan pula rangka manusia kerdil yang kemudian diberi nama Homo Florensiesis di kedalaman 6 meter yang berasal dari sekitar 18.000 tahun yang lalu. Manusia kerdil ini berjenis kelamin perempuan berumur sekitar 30 tahun, tinggi sekitar 106cm, volume otak sekitar 380cc (dibandingkan dengan otak manusia modern yang minimum memiliki volume otak 1200cc). Secara keseluruhan, lapisan yang mengandung temuan-temuan tersebut berumur antara 95.000 – 12.000 tahun yang lalu.
RUTUNG AGU WELA TIMUNG
Dahulu kala, ada seorang gadis yang mempunyai seorang kakak yang bernama Wela Timung. Wela Timung bersuamikan ata maeng mese “penjudi kelas kakap”. Jika kala berjudi suaminya marah-marah. Karena terus menerus kalah judi, suaminya menjual kekayaannya seperti kerbau, kuda, sapi, dan juga tanah. Setelah semua itu ludes, lelaki biadab itu minta perhiasan istrinya untuk digadaikan. Demi kasih sayang kepada suami, Wela Timung memberikan semua perhiasannya. Itupun belum cukup. Terakhir, suami yang semakin biadab itu menjual istrinya kepada orang kaya. Pasti, istri yang beradab ini tidak mau. Prinsipnya lebih baik mati daripada diperlakukan sebagai binatang oleh suami sendiri. Karena itu, suami memukul dan menendang Wela Timung sampai mati.
Adiknya yang berniat mengunjungi Wela Timung sangat terkejut ketika kakaknya sudah menjadi mayat. Suami Wela Timung dan komplotannya segera mengikat gadis itu pada tiang di kolong rumah. Saat itulah seekor rutung yang jumlahnya jutaan itu segera menggali terowongan sebagai jalan bagi si gadis. Si gadis pun selamat sampai di rumah orang tuanya. Namun pada saat yang sama, arwah kakaknya tidak di rumah yang sama. Gadis itu berteriak histeris sambil memberitahukan kematian kakaknya hingga arwah itu menghilang. Untuk balas jasa kepada rutung, orang tua gadis itu dan semua turunannya bersumpah untuk tidak makan daging rutung. Itulah sebabnya turunan tersebut ceki rutung tidak makan landak.
Dahulu kala, ada seorang gadis yang mempunyai seorang kakak yang bernama Wela Timung. Wela Timung bersuamikan ata maeng mese “penjudi kelas kakap”. Jika kala berjudi suaminya marah-marah. Karena terus menerus kalah judi, suaminya menjual kekayaannya seperti kerbau, kuda, sapi, dan juga tanah. Setelah semua itu ludes, lelaki biadab itu minta perhiasan istrinya untuk digadaikan. Demi kasih sayang kepada suami, Wela Timung memberikan semua perhiasannya. Itupun belum cukup. Terakhir, suami yang semakin biadab itu menjual istrinya kepada orang kaya. Pasti, istri yang beradab ini tidak mau. Prinsipnya lebih baik mati daripada diperlakukan sebagai binatang oleh suami sendiri. Karena itu, suami memukul dan menendang Wela Timung sampai mati.
Adiknya yang berniat mengunjungi Wela Timung sangat terkejut ketika kakaknya sudah menjadi mayat. Suami Wela Timung dan komplotannya segera mengikat gadis itu pada tiang di kolong rumah. Saat itulah seekor rutung yang jumlahnya jutaan itu segera menggali terowongan sebagai jalan bagi si gadis. Si gadis pun selamat sampai di rumah orang tuanya. Namun pada saat yang sama, arwah kakaknya tidak di rumah yang sama. Gadis itu berteriak histeris sambil memberitahukan kematian kakaknya hingga arwah itu menghilang. Untuk balas jasa kepada rutung, orang tua gadis itu dan semua turunannya bersumpah untuk tidak makan daging rutung. Itulah sebabnya turunan tersebut ceki rutung tidak makan landak.
NGGOR MATA LESO
Dahulu kala hiduplah seorang putra raja. Namanya Nggor Mata Leso. Ia disuruh ayahnya untuk mengunjungi keluarga pamannya. Amang “paman/saudara dari ibu” mempunyai dua anak gadis: Timung Te’e dan Welarunu. Untuk itu, putera raja naik kuda dan seorang mendi “hamba” bernama Ndiwa Lako Bali mengerek kuda.
Tibalah mereka di suatu kali yang dekat dengan kampung si paman. Nggor Mata Leso mandi dan pakaian mewahnya diletakkan di atas batu. Ketika ia sedang mandi, hambanya meninggalkan pakaian lusuhnya lalu mengenakan pakaian mewah putera raja. Setelah itu, si hamba segera menunggang kuda untuk menuju rumah paman.
Hamba yang kurang ajar itu masuk ke rumah paman putera raja dan memperkenalkan diri sebagai putera yang bernama Nggor Mata Leso. Tanpa hati-hati, keluarga paman menyambutnya dengan ramah dan sopan. Timung Te’e tampak sangat cerita karena bakal menjadi istri putera bangsawan. Tidak lama kemudian, datanglah Nggor Mata Leso yang sebenarnya tetapi tidak disambut secara ramah. Malam itu Nggor Mata Leso makan kulit ketela rambat dan tidur beralaskan tikar tua di dekat sangkar ayam. Walau diperlakukan sebagai hamba, Nggor Mata Leso tidak menolaknya. Ketika orang tua Timung Te’e berbicara dengan Ndiwa Lako Bali, diam-diam Welarunu memperhatikan wajah lelaki itu yang tampak tua dan kehitam-hitaman.
Keesokannya tatkala mentari pagi belum terbit, Welarunu pergi ke ladang untuk riang peti (usir burung yang mengganggu tanaman). Diam-diam Nggor Mata Leso mengikuti Welarunu. Di ladang mereka bercerita tentang segalanya. Kedua anak manusia itu pulang ke kampung setelah mentar terbenam. Sampai di rumah, Nggor Mata Leso masih diperlakukan sebagai hamba oleh pamannya. Timung Te’e bersikap masa bodoh terhadap putera raja tersebut. Hanya Welarunu yang tidak peduli terhadap Ndiwa Lako Bali.
Hari berikutnya karena ada caci, Welarunu tidak pergi ke ladang. Ia bersama gadis lain, termasuk kakaknya yang bernama Timung Te’e, pukul gendang. Ndiwa Lako Bali bermain caci, tetapi tiada seorang pun berani menantang “putera bangsawan”, kecuali Nggor Mata Leso. Diambilnya larik “cambuk yang terbuat dari kulit kerbau” lalu dipukulnya kepada Ndiwa Lako Bali. Baru sekali pukul, ujung larik mengena pada bagian mata Ndiwa Lako Bali yang langsung pingsan.
Setelah Ndiwa Lako Bali sadar kembali, ia mengakui kesalahannya kepada warga kampungl. Orang-orang sangat heran dan Timung Te’e sangat marah karena ditipu seorang mendi. Maka ketika Ndiwa Lako Bali masuk ke rumah si paman, pemilik rumah langsung mengusirnya seperti anjing. Si penipu itu pun pergi entah ke mana dengan menanggung rasa malu.
Dahulu kala hiduplah seorang putra raja. Namanya Nggor Mata Leso. Ia disuruh ayahnya untuk mengunjungi keluarga pamannya. Amang “paman/saudara dari ibu” mempunyai dua anak gadis: Timung Te’e dan Welarunu. Untuk itu, putera raja naik kuda dan seorang mendi “hamba” bernama Ndiwa Lako Bali mengerek kuda.
Tibalah mereka di suatu kali yang dekat dengan kampung si paman. Nggor Mata Leso mandi dan pakaian mewahnya diletakkan di atas batu. Ketika ia sedang mandi, hambanya meninggalkan pakaian lusuhnya lalu mengenakan pakaian mewah putera raja. Setelah itu, si hamba segera menunggang kuda untuk menuju rumah paman.
Hamba yang kurang ajar itu masuk ke rumah paman putera raja dan memperkenalkan diri sebagai putera yang bernama Nggor Mata Leso. Tanpa hati-hati, keluarga paman menyambutnya dengan ramah dan sopan. Timung Te’e tampak sangat cerita karena bakal menjadi istri putera bangsawan. Tidak lama kemudian, datanglah Nggor Mata Leso yang sebenarnya tetapi tidak disambut secara ramah. Malam itu Nggor Mata Leso makan kulit ketela rambat dan tidur beralaskan tikar tua di dekat sangkar ayam. Walau diperlakukan sebagai hamba, Nggor Mata Leso tidak menolaknya. Ketika orang tua Timung Te’e berbicara dengan Ndiwa Lako Bali, diam-diam Welarunu memperhatikan wajah lelaki itu yang tampak tua dan kehitam-hitaman.
Keesokannya tatkala mentari pagi belum terbit, Welarunu pergi ke ladang untuk riang peti (usir burung yang mengganggu tanaman). Diam-diam Nggor Mata Leso mengikuti Welarunu. Di ladang mereka bercerita tentang segalanya. Kedua anak manusia itu pulang ke kampung setelah mentar terbenam. Sampai di rumah, Nggor Mata Leso masih diperlakukan sebagai hamba oleh pamannya. Timung Te’e bersikap masa bodoh terhadap putera raja tersebut. Hanya Welarunu yang tidak peduli terhadap Ndiwa Lako Bali.
Hari berikutnya karena ada caci, Welarunu tidak pergi ke ladang. Ia bersama gadis lain, termasuk kakaknya yang bernama Timung Te’e, pukul gendang. Ndiwa Lako Bali bermain caci, tetapi tiada seorang pun berani menantang “putera bangsawan”, kecuali Nggor Mata Leso. Diambilnya larik “cambuk yang terbuat dari kulit kerbau” lalu dipukulnya kepada Ndiwa Lako Bali. Baru sekali pukul, ujung larik mengena pada bagian mata Ndiwa Lako Bali yang langsung pingsan.
Setelah Ndiwa Lako Bali sadar kembali, ia mengakui kesalahannya kepada warga kampungl. Orang-orang sangat heran dan Timung Te’e sangat marah karena ditipu seorang mendi. Maka ketika Ndiwa Lako Bali masuk ke rumah si paman, pemilik rumah langsung mengusirnya seperti anjing. Si penipu itu pun pergi entah ke mana dengan menanggung rasa malu.
Selasa, 21 September 2010
UPACARA ROKO MOLAS
UPACARA ROKO MOLAS POCO
A. Apa itu upacara Roko Molas Poco?
Dilihat dari segi kata, Roko berarti mengambil, Molas diidentikkan dengan wanita cantik dan Poco berarti gunung.
Upacara ini merupakan upacara pengambilan kayu di hutan yang digunakan sebagai tiang utama dalam pembuatan rumah adat (mbaru tembong).
Dalam upacara ini “Molas Poco” yang diambil untuk dijadikan tiang utama (Siri Bongkok) yang akan dibuat dan diletakkan di tengah-tengah rumah adat yang akan dibuat; dan rumah adat yang akan dibuat tersebut berbentuk kerucut dan bagian ujung atas rumah dipasang tanduk kerbau (rangga kaba).
B. Tahapan-tahapan dalam pelaksanaan upacara Roko Molas Poco
1. Tahap Perencanaan
Pada tahap ini tokoh-tokoh adat (tu’a golo, tu’a teno) mengundang anggota masyarakat, berkumpul di halaman kampung (natas) untuk mengadakan musyawarah dalam rangka pembuatan rumah adat (mbaru tembong).
2. Tahap Pelaksanaan
Pada tahap ini, anggota masyarakat maupun tokoh-tokoh adat dibagi dalam dua kelompok, yaitu kelompok Roko Molas Poco (kelompok yang akan pergi ke hutan untuk mengambil kayu tersebut) dan kelompok sundung/curu molas poco (kelompok yang akan menjemput Molas Poco tersebut). Upacara Roko Molas Poco ini diawali dengan acara teing hang atau pemberian sesajian di altar sesajian (compang) yang dipimpin oleh tu’a golo.
Setelah upacara “teing hang” selesai, barulah kelompok “Roko Molas Poco” berangkat ke hutan (puar) dengan membawa ayam (manuk), tuak, kapak (cola), parang (kope), serta alat-alat lain yang dibutuhkan saat upacara tersebut berlangsung.
Setiba di hutan, kelompok “Roko Molas Poco” beserta tu’a golo duduk menghadap pohon yang akan dijadikan sebagai “Molas Poco” atau “Siri Bongkok”. Kemudian tu’a golo, menyampaikan permohonan atau kepok atau torok tae kepada roh-roh, arwah-arwah nenek moyang.
Setelah torok tae tersebut selesai barulah kayu tersebut dipotong dan “Molas Poco” tersebut diusung ke kampung oleh kelomppok Roko. Sesampainya di dekat kampung (Pa’ang beo) kelompok Roko Molas Poco tersebut dijemput (sundung/curu) oleh kelompok penjemput, dengan diiringi tarian-tarian dan dilanjutkan torok/kepok sundung/curu.
C. Pihak-pihak yang terlibat
Pihak yang terlibat dalam upacara Roko Molas Poco yaitu tokoh-tokoh adat (tu’a golo, tu’a teno) serta seluruh anggota masyarakat yang bertempat tinggal di wilayah tersebut.
Keterlibatan tu’a golo, tu’a teno dalam upacara ini sebagai orang yang memimpin upacara Roko Molas Poco dan juga sebagai orang yang menyampaikan torok/kepok saat upacara berlangsung.
Keterlibatan anggota masyarakat yaitu sebagai orang yang mengambil (Roko) serta menjemput (curu/sundung) “Molas Poco” atau “Siri Bongkok” bersama tu’a teno dan tu’a golo.
D. Apa saja yang dibutuhkan untuk upacara tersebut?
Yang dibutuhkan dalam upacara “Roko Molas Poco” ini diantaranya adalah ayam (manuk), moke (tuak), kapak (cola), serta parang (kope).
E. Dimana acara itu dilakukan?
Acara “Roko Molas Poco” ini dilakukan di halaman kampung (natas) dan pengambilan “Molas Poco” (Roko Molas Poco) dilakukan di hutan (puar).
F. Kapan acara itu dilakukan?
Acara “Roko Molas Poco” ini dibuat dalam rangka pembuatan rumah adat (mbaru tembong).
G. Mengapa acara itu dilakukan?
Acara “Roko Molas Poco” ini dibuat karena merupakan warisan leluhur. Dan tujuan upacara ini dibuat agar rumah adat atau mbaru tembong yang akan dibuat tetap kokoh, serta memberikan ketentraman bagi warga yang mendiami kampung tersebut.
A. Apa itu upacara Roko Molas Poco?
Dilihat dari segi kata, Roko berarti mengambil, Molas diidentikkan dengan wanita cantik dan Poco berarti gunung.
Upacara ini merupakan upacara pengambilan kayu di hutan yang digunakan sebagai tiang utama dalam pembuatan rumah adat (mbaru tembong).
Dalam upacara ini “Molas Poco” yang diambil untuk dijadikan tiang utama (Siri Bongkok) yang akan dibuat dan diletakkan di tengah-tengah rumah adat yang akan dibuat; dan rumah adat yang akan dibuat tersebut berbentuk kerucut dan bagian ujung atas rumah dipasang tanduk kerbau (rangga kaba).
B. Tahapan-tahapan dalam pelaksanaan upacara Roko Molas Poco
1. Tahap Perencanaan
Pada tahap ini tokoh-tokoh adat (tu’a golo, tu’a teno) mengundang anggota masyarakat, berkumpul di halaman kampung (natas) untuk mengadakan musyawarah dalam rangka pembuatan rumah adat (mbaru tembong).
2. Tahap Pelaksanaan
Pada tahap ini, anggota masyarakat maupun tokoh-tokoh adat dibagi dalam dua kelompok, yaitu kelompok Roko Molas Poco (kelompok yang akan pergi ke hutan untuk mengambil kayu tersebut) dan kelompok sundung/curu molas poco (kelompok yang akan menjemput Molas Poco tersebut). Upacara Roko Molas Poco ini diawali dengan acara teing hang atau pemberian sesajian di altar sesajian (compang) yang dipimpin oleh tu’a golo.
Setelah upacara “teing hang” selesai, barulah kelompok “Roko Molas Poco” berangkat ke hutan (puar) dengan membawa ayam (manuk), tuak, kapak (cola), parang (kope), serta alat-alat lain yang dibutuhkan saat upacara tersebut berlangsung.
Setiba di hutan, kelompok “Roko Molas Poco” beserta tu’a golo duduk menghadap pohon yang akan dijadikan sebagai “Molas Poco” atau “Siri Bongkok”. Kemudian tu’a golo, menyampaikan permohonan atau kepok atau torok tae kepada roh-roh, arwah-arwah nenek moyang.
Setelah torok tae tersebut selesai barulah kayu tersebut dipotong dan “Molas Poco” tersebut diusung ke kampung oleh kelomppok Roko. Sesampainya di dekat kampung (Pa’ang beo) kelompok Roko Molas Poco tersebut dijemput (sundung/curu) oleh kelompok penjemput, dengan diiringi tarian-tarian dan dilanjutkan torok/kepok sundung/curu.
C. Pihak-pihak yang terlibat
Pihak yang terlibat dalam upacara Roko Molas Poco yaitu tokoh-tokoh adat (tu’a golo, tu’a teno) serta seluruh anggota masyarakat yang bertempat tinggal di wilayah tersebut.
Keterlibatan tu’a golo, tu’a teno dalam upacara ini sebagai orang yang memimpin upacara Roko Molas Poco dan juga sebagai orang yang menyampaikan torok/kepok saat upacara berlangsung.
Keterlibatan anggota masyarakat yaitu sebagai orang yang mengambil (Roko) serta menjemput (curu/sundung) “Molas Poco” atau “Siri Bongkok” bersama tu’a teno dan tu’a golo.
D. Apa saja yang dibutuhkan untuk upacara tersebut?
Yang dibutuhkan dalam upacara “Roko Molas Poco” ini diantaranya adalah ayam (manuk), moke (tuak), kapak (cola), serta parang (kope).
E. Dimana acara itu dilakukan?
Acara “Roko Molas Poco” ini dilakukan di halaman kampung (natas) dan pengambilan “Molas Poco” (Roko Molas Poco) dilakukan di hutan (puar).
F. Kapan acara itu dilakukan?
Acara “Roko Molas Poco” ini dibuat dalam rangka pembuatan rumah adat (mbaru tembong).
G. Mengapa acara itu dilakukan?
Acara “Roko Molas Poco” ini dibuat karena merupakan warisan leluhur. Dan tujuan upacara ini dibuat agar rumah adat atau mbaru tembong yang akan dibuat tetap kokoh, serta memberikan ketentraman bagi warga yang mendiami kampung tersebut.
GO’ET MANGGARAI
* Nilai Religius
- Mori jari dedek, tanan wa awangn eta, pukul parn agu kolep, ulun le wain lau:
(Tuhan pencipta langit dan bumi serta segala isinya, Tuhan pencipta dan pembentuk kehidupan manusia dan segala makhluk serta segala alam raya)
* Nilai Kesehatan
- Neka nepo leso, neka ringing tis:
(Jangan lekang karena terik matahari, jangan demam karena hujan rintik)
- Uwa haeng wulang, langkas haeng ntala
(Tinggi sampai di bulan dan jangkau sampai di langit)
- Cimang neho rimang cama rimang rana, kimpur neho kiwung cama kiwung lopo
(Kekar kuat seperti batang lidi ijuk dari jenis pohon enau yang bertumbuh subur)
* Tentang Persahabatan
- Curup hae ubu, neho luju mu’u cepa hae reba cama neho emas lema:
(Bersahabatlah dengan baik dan berbicaralah dengan sopan)
- Neka conga bail jaga poka bokak, neka tengguk bail jaga kepu tengu :
(Jangan congkak atau sombong)
- Ngong ata lombong lala, kali weki run lombong muku:
(Orang lain dipersalahkan padahal diri sendiri bersalah)
- Nai ca anggit, tuka ca leleng:
(Seia sekata, satu konsepsi demi kesatuan aksi)
- Inggos-inggos wale io:
(Cepat-cepat jawal io (jawab sopan)
* Tentang Permusuhan
- Purak mukang wajo kampong:
(Orang yang menyerang kampung berhadapan muka)
- Ngampong tanah, ngawe wae:
(Dibatasi dengan jurang dan kali, permusuhan yang tidak boleh melanggar batas)
- Sesa mu’u eta kali ngampong kin tuka wa:
(Di mulut baik-baik, padahal dalam hati tetap bermusuhan)
- Tu’ung le mu’u toe le nai:
(Mulut berkata benar tetapi hati tidak)
* Tentang Kebijaksanaan
- Ca pujut kali nuk, ca dako kali anor:
(Kurang bijaksana)
- Tiwu lewe lewing lembak
(Kolam besar dan priuk bermulut lebar)
- Nai ngagil tuka ngengga
(Penuh kebijaksanaan)
* Tentang Memberi Motivasi
- Kantis ati, racang rak cengka lemas:
(Hati dan paru-paru diasah)
- Na’a ngger wa rak, na’a ngger eta lemas:
(Supaya berani berjuang sampai memperoleh yang diharapkan)
- Ngo le golo bombong wela lokom:
(Hati-hati jangan sampai di atas bukit sudah berbunga seperti kayu lokom)
- Lalong pondong du ngon, lalong rombong du kolen:
(Pulang membawa keberhasilan)
- Asam ndusuk tana ru konem lalen tana sale:
(Walaupun negeri sendiri ditumbuhi ndusuk dan tanah orang berkelimpahan lale)
- Neka hemong kuni atu kalo/neka oke kuni atu kalo:
(Jangan lupa kampung halaman sendiri/jangan buang kebiasaan tanah tumpah darah)
* Tentang Menjaga Nama Baik
- Neka pocu wa’u, neka jogot hae golo:
(Jangan membusukkan nama anggota klen/subklen dan sesama kampung)
- Neka mas agu hae ata, neka nggaut agu hae mbaru:
(Jangan bermusuhan dengan orang)
- Reges lima leke, tawa lima gantong:
(Tertawa lepas terbahak-bahak menunjukkan kegembiraan dalam kebersamaan)
* Go’et yang Berhubungan Dengan Leluhur
- Serong dise empo mbate dise ame:
(Wasiat leluhur, warisan ayah)
- Tanah ledong dise empo:
(Tanah warisan leluhur)
- Tanah kuni atu kalo:
(Kampung halaman)
* Go’et Pergantian Keturunan
- Eme wakak betong asa, manga waken nipu tae:
(Kalau induk rumpun bambu tumbang, akarnya tumbuh melanjutkan kehidupan yang sama)
- Bom tombo le run rukus, bom tura le run kula:
(Kepiting tidak bicara sendiri, musangpun tak memberitahukan warna kulitnya)
- Wae de ase, agu wae de kae:
(Keturunan kakak dan keturunan adik)
* Go’et Dalam Perkawinan
- Api toe caing, wae toe haeng:
(Ungkapan anak wina kepada anak rona meminta anak menantu)
- Bom salang tuak, salang wae:
(Bukan jalan tuak yang cepat mati tetapi air yang mengalir terus)
- Pase sapu selek kope, weda rewa tuke mbaru:
(Memakai destar, masuk rumah melalui pintu datang meminang seorang gadis dengan resmi)
- Ita kala le pa’ang, tuluk pu’u batu mbaru:
(Melihat gadis dan terus datang meminangnya)
- Neka maring jarang laki, neka tinang jarang kina:
(Menyindir keluarga laki-laki agar melunasi belis)
- Hi nana lelo tana, hi enu lelo awang:
(Perbuatan melanggar susila)
- Anak pencang wa, ende lomes koleh:
(Istri yang bergaya muda, tua di rumah muda di jalan)
- Cawi neho wuas, dole neho ajos:
(Terpilin laksana rotan, terpintal bagai tali ajo)
* Go’et Berkaitan Dengan Tempat Tinggal
- Ca natas bate labar, ca uma bate duat, ca mbaru bate kaeng, ca wae teku:
(Satu kampung halaman tempat bermain, satu kebun tempat kerja, satu rumah tempat tinggal)
- Ulun le wain lau, ngalorn awo waen sale:
(Dari hulu sungai sampai muara/lingkungan kampung yang lebih luas)
SUMBER :
1. Buku Budaya Daerah Manggarai
Drs. Antony Bagul Dagur, M.Si
Prospek dan Strategi Perkembangan Kabupaten Manggarai dalam Perspektif Masa Depan
Penerbit Indonesia Jakarta
Pengantar: Gubernur NTT, Piet Alexander Tallo, S.H.
Dirjen Otda Depdagri, Dr. Oentarto Sindung Mawardi, M.Si
2. Buku Budaya Daerah Manggarai
Petrus Janggur, B.A
Butir-butir Adat Manggarai
Penerbit Artha Gracia
Jl. Diponegoro No.14
* Nilai Religius
- Mori jari dedek, tanan wa awangn eta, pukul parn agu kolep, ulun le wain lau:
(Tuhan pencipta langit dan bumi serta segala isinya, Tuhan pencipta dan pembentuk kehidupan manusia dan segala makhluk serta segala alam raya)
* Nilai Kesehatan
- Neka nepo leso, neka ringing tis:
(Jangan lekang karena terik matahari, jangan demam karena hujan rintik)
- Uwa haeng wulang, langkas haeng ntala
(Tinggi sampai di bulan dan jangkau sampai di langit)
- Cimang neho rimang cama rimang rana, kimpur neho kiwung cama kiwung lopo
(Kekar kuat seperti batang lidi ijuk dari jenis pohon enau yang bertumbuh subur)
* Tentang Persahabatan
- Curup hae ubu, neho luju mu’u cepa hae reba cama neho emas lema:
(Bersahabatlah dengan baik dan berbicaralah dengan sopan)
- Neka conga bail jaga poka bokak, neka tengguk bail jaga kepu tengu :
(Jangan congkak atau sombong)
- Ngong ata lombong lala, kali weki run lombong muku:
(Orang lain dipersalahkan padahal diri sendiri bersalah)
- Nai ca anggit, tuka ca leleng:
(Seia sekata, satu konsepsi demi kesatuan aksi)
- Inggos-inggos wale io:
(Cepat-cepat jawal io (jawab sopan)
* Tentang Permusuhan
- Purak mukang wajo kampong:
(Orang yang menyerang kampung berhadapan muka)
- Ngampong tanah, ngawe wae:
(Dibatasi dengan jurang dan kali, permusuhan yang tidak boleh melanggar batas)
- Sesa mu’u eta kali ngampong kin tuka wa:
(Di mulut baik-baik, padahal dalam hati tetap bermusuhan)
- Tu’ung le mu’u toe le nai:
(Mulut berkata benar tetapi hati tidak)
* Tentang Kebijaksanaan
- Ca pujut kali nuk, ca dako kali anor:
(Kurang bijaksana)
- Tiwu lewe lewing lembak
(Kolam besar dan priuk bermulut lebar)
- Nai ngagil tuka ngengga
(Penuh kebijaksanaan)
* Tentang Memberi Motivasi
- Kantis ati, racang rak cengka lemas:
(Hati dan paru-paru diasah)
- Na’a ngger wa rak, na’a ngger eta lemas:
(Supaya berani berjuang sampai memperoleh yang diharapkan)
- Ngo le golo bombong wela lokom:
(Hati-hati jangan sampai di atas bukit sudah berbunga seperti kayu lokom)
- Lalong pondong du ngon, lalong rombong du kolen:
(Pulang membawa keberhasilan)
- Asam ndusuk tana ru konem lalen tana sale:
(Walaupun negeri sendiri ditumbuhi ndusuk dan tanah orang berkelimpahan lale)
- Neka hemong kuni atu kalo/neka oke kuni atu kalo:
(Jangan lupa kampung halaman sendiri/jangan buang kebiasaan tanah tumpah darah)
* Tentang Menjaga Nama Baik
- Neka pocu wa’u, neka jogot hae golo:
(Jangan membusukkan nama anggota klen/subklen dan sesama kampung)
- Neka mas agu hae ata, neka nggaut agu hae mbaru:
(Jangan bermusuhan dengan orang)
- Reges lima leke, tawa lima gantong:
(Tertawa lepas terbahak-bahak menunjukkan kegembiraan dalam kebersamaan)
* Go’et yang Berhubungan Dengan Leluhur
- Serong dise empo mbate dise ame:
(Wasiat leluhur, warisan ayah)
- Tanah ledong dise empo:
(Tanah warisan leluhur)
- Tanah kuni atu kalo:
(Kampung halaman)
* Go’et Pergantian Keturunan
- Eme wakak betong asa, manga waken nipu tae:
(Kalau induk rumpun bambu tumbang, akarnya tumbuh melanjutkan kehidupan yang sama)
- Bom tombo le run rukus, bom tura le run kula:
(Kepiting tidak bicara sendiri, musangpun tak memberitahukan warna kulitnya)
- Wae de ase, agu wae de kae:
(Keturunan kakak dan keturunan adik)
* Go’et Dalam Perkawinan
- Api toe caing, wae toe haeng:
(Ungkapan anak wina kepada anak rona meminta anak menantu)
- Bom salang tuak, salang wae:
(Bukan jalan tuak yang cepat mati tetapi air yang mengalir terus)
- Pase sapu selek kope, weda rewa tuke mbaru:
(Memakai destar, masuk rumah melalui pintu datang meminang seorang gadis dengan resmi)
- Ita kala le pa’ang, tuluk pu’u batu mbaru:
(Melihat gadis dan terus datang meminangnya)
- Neka maring jarang laki, neka tinang jarang kina:
(Menyindir keluarga laki-laki agar melunasi belis)
- Hi nana lelo tana, hi enu lelo awang:
(Perbuatan melanggar susila)
- Anak pencang wa, ende lomes koleh:
(Istri yang bergaya muda, tua di rumah muda di jalan)
- Cawi neho wuas, dole neho ajos:
(Terpilin laksana rotan, terpintal bagai tali ajo)
* Go’et Berkaitan Dengan Tempat Tinggal
- Ca natas bate labar, ca uma bate duat, ca mbaru bate kaeng, ca wae teku:
(Satu kampung halaman tempat bermain, satu kebun tempat kerja, satu rumah tempat tinggal)
- Ulun le wain lau, ngalorn awo waen sale:
(Dari hulu sungai sampai muara/lingkungan kampung yang lebih luas)
SUMBER :
1. Buku Budaya Daerah Manggarai
Drs. Antony Bagul Dagur, M.Si
Prospek dan Strategi Perkembangan Kabupaten Manggarai dalam Perspektif Masa Depan
Penerbit Indonesia Jakarta
Pengantar: Gubernur NTT, Piet Alexander Tallo, S.H.
Dirjen Otda Depdagri, Dr. Oentarto Sindung Mawardi, M.Si
2. Buku Budaya Daerah Manggarai
Petrus Janggur, B.A
Butir-butir Adat Manggarai
Penerbit Artha Gracia
Jl. Diponegoro No.14
HANG HELANG
HELANG
Dalam masyarakat Manggarai, satu bentuk tradisi keberagamaan yaitu agama lokal dan yang sering dilakukan adalah acara teing hang atau helang/takung.
Acara teing hang dilaksanakan oleh masyarakat Manggarai yang beragama lokal untuk menghormati leluhur yang sudah meninggal yang dipercayai bahwa mereka mempunyai kekuatan supra empiris, dan helang/takung dibuat oleh masyarakat beragama lokal di Manggarai itu di bawah pohon besar (langke), batu besar dan mata air/temek untuk mempersembahkan kepada nenek moyang atau leluhur yang menjaga benda-benda tersebut dan diyakini mempunyai kekuatan supra empiris.
Acara teing hang atau helang/takung dilaksanakan setiap tahun baru, penti dan wuat wa’i, karena pada saat itu masyarakat Manggarai yang beragama lokal mengucapkan syukur dan memohon perlindungan nenek moyang dan leluhur melalui teing hang atau helang.
Secara sosiologis, acara teing hang atau helang/takung ini bermaksud untuk memberi makan kepada leluhur atau nenek moyang yang sudah meninggal yang diyakini memiliki kekuatan supra empiris.
Arwah leluhur yang sudah mati itu diyakini oleh masyarakat agama lokal di Manggarai memiliki pengaruh yang besar dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Arwah leluhur dipandang sebagai jembatan do’a atau letang temba kepada Tuhan bagi yang ditinggalkan dan helang/takung dipandang sebagai suatu bentuk ucapan syukur roh yang tinggal atau menjaga batu besar itu dapat menjaga dan memberi berkat yang berlimpah kepada masyarakat agama lokal (di Manggarai). Atas dasar itu, acara teing hang / helang/takung dilakukan dengan maksud agar arwah leluhur itu tetap menjaga kehidupan yrang yang masih hidup dan agar nenek moyang itu tetap setiap menyampaikan doa dari orang yang masih hidup kepada leluhur yang mempunyai kekuatan supra empiris.
Nilai sosial dari acara teing hang atau takung adalah dilakukan oleh masyarakat Manggarai pada umumnya dan juga acara teing hang atau helang/takung ini dilihat sebagai suatu bentuk keyakinan masyarakat agama lokal di Manggarai kepada arwah nenek moyang atau leluhur sebagai perantara atau jembatan doa kepada Tuhan atau kepada sesuatu yang memiliki kekuatan yang supra empiris. Selain itu, acara teing hang atau helang ini dilihat sebagai alat ukur yang menilai aspek religius masyarakat yang beragama lokal di Manggarai. Dan mereka percaya bahwa dengan melaksanakan acara teing hang atau helang mereka memperoleh keselamatan baik bagi dirinya maupun masyarat luas umumnya.
Dalam masyarakat Manggarai, satu bentuk tradisi keberagamaan yaitu agama lokal dan yang sering dilakukan adalah acara teing hang atau helang/takung.
Acara teing hang dilaksanakan oleh masyarakat Manggarai yang beragama lokal untuk menghormati leluhur yang sudah meninggal yang dipercayai bahwa mereka mempunyai kekuatan supra empiris, dan helang/takung dibuat oleh masyarakat beragama lokal di Manggarai itu di bawah pohon besar (langke), batu besar dan mata air/temek untuk mempersembahkan kepada nenek moyang atau leluhur yang menjaga benda-benda tersebut dan diyakini mempunyai kekuatan supra empiris.
Acara teing hang atau helang/takung dilaksanakan setiap tahun baru, penti dan wuat wa’i, karena pada saat itu masyarakat Manggarai yang beragama lokal mengucapkan syukur dan memohon perlindungan nenek moyang dan leluhur melalui teing hang atau helang.
Secara sosiologis, acara teing hang atau helang/takung ini bermaksud untuk memberi makan kepada leluhur atau nenek moyang yang sudah meninggal yang diyakini memiliki kekuatan supra empiris.
Arwah leluhur yang sudah mati itu diyakini oleh masyarakat agama lokal di Manggarai memiliki pengaruh yang besar dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Arwah leluhur dipandang sebagai jembatan do’a atau letang temba kepada Tuhan bagi yang ditinggalkan dan helang/takung dipandang sebagai suatu bentuk ucapan syukur roh yang tinggal atau menjaga batu besar itu dapat menjaga dan memberi berkat yang berlimpah kepada masyarakat agama lokal (di Manggarai). Atas dasar itu, acara teing hang / helang/takung dilakukan dengan maksud agar arwah leluhur itu tetap menjaga kehidupan yrang yang masih hidup dan agar nenek moyang itu tetap setiap menyampaikan doa dari orang yang masih hidup kepada leluhur yang mempunyai kekuatan supra empiris.
Nilai sosial dari acara teing hang atau takung adalah dilakukan oleh masyarakat Manggarai pada umumnya dan juga acara teing hang atau helang/takung ini dilihat sebagai suatu bentuk keyakinan masyarakat agama lokal di Manggarai kepada arwah nenek moyang atau leluhur sebagai perantara atau jembatan doa kepada Tuhan atau kepada sesuatu yang memiliki kekuatan yang supra empiris. Selain itu, acara teing hang atau helang ini dilihat sebagai alat ukur yang menilai aspek religius masyarakat yang beragama lokal di Manggarai. Dan mereka percaya bahwa dengan melaksanakan acara teing hang atau helang mereka memperoleh keselamatan baik bagi dirinya maupun masyarat luas umumnya.
Langganan:
Postingan (Atom)