Senin, 12 Maret 2012


5 Khasiat Air Putih

Meminum cukup air jangan hanya karena kita merasa dahaga saja. Namun pertimbangkan pula kegunaan air ini dalam tubuh manusia. Berikut ada 5 tips berguna, mengapa kita harus meminum cukup air.

1.Demi menjaga keseimbangan cairan tubuh. Dengan kandungan air dalam tubuh mencapai 60%, fungsinya amat penting dalam proses pencernaan, penyerapan makanan, sirkulasi, menghasilkan air liur, angkutan nutrisi tubuh, dan menjaga suhu tubuh. Jika kekurangan air, yang haus bukan hanya mulut, melainkan otak. Asupan air untuk tubuh dapat diperoleh dari air putih, jus, susu, teh, dan kopi. Dalam hal ini minuman alkohol tidak masuk hitungan karena justru menyebabkan tubuh dehidrasi.

2.Untuk meningkatkan energi otot. Jika otot terasa nyeri dan lelah adalah pertanda cairan tubuh tidak seimbang. Karena itu minum banyak air sebelum dan saat berolahraga dianjurkan untuk mengganti cairan yang hilang lantaran menjadi keringat.

3.Untuk mengontrol kalori. Dalam beberapa tahun terakhir peserta diet menenggak banyak air minum nonkalori sebagai cara menurunkan berat badan. Makanan yang mengandung banyak air cenderung untuk kerap dikunyah dan diserap tubuh perlahan. Ini menumbuhkan rasa kenyang. Makanan itu di antaranya adalah buah-buahan, sayuran, sup, gandum, dan kacang-kacangan.

4.Ginjal akan berfungsi normal jika keseimbangan air dalam tubuh terjaga. Sampah utama dalam tubuh adalah nitrogen urea, yang larut dalam air, kemudian disaring oleh ginjal dan dibuang melalui urin. Ginjal bekerja amat baik jika didukung cairan tubuh seimbang. Tubuh yang cukup air menghasilkan urin berwarna terang, tidak bau, dan mengalir lancar.

5.Cairan tubuh yang seimbang menjaga fungsi saluran pencernaan. Karena usus amat leluasa menggiling makanan dan menyerap sarinya. Jika kurang air, usus besar menyerap kembali cairan dari kotoran. Inilah penyebab sembelit dan susah buang air besar, karena terlalu kering setelah airnya disedot kembali oleh tubuh. Jadi sebaiknya meminum air segar, atau Anda membiarkan usus besar mengorek sisa air dari calon tinja.

Mengatasi Tenggorokan Sakit

5 Cara Atasi Sakit Tenggorokan


TENGGOROKAN Anda sakit? Meskipun rasa sakit ini seringkali mengindikasikan adanya penyakit lain seperti flu, demam, radang amandel, atau pembengkakan kelenjar, Anda tidak harus langsung mengonsumsi obat-obatan. Anda bisa mempercepat penyembuhan dengan beberapa bahan pengobatan alami seperti kunyit, lemon atau minyak kelapa.

Penyakit yang menyebabkan gangguan menelan ini biasanya disebabkan oleh infeksi bakteri atau virus, iritasi pada membran mucus tenggorokan akibat debu, asap, pasta gigi atau infeksi gusi, batuk kronis, serta berbicara keras untuk jangka waktu yang lama. Jangan biarkan rasa sakit berlarut-larut, berikut beberapa pengobatan alami yang bisa Anda coba:

1. Berkumur dengan kunyit dan air garam
Campurkan 1/4 sendok teh kunyit dan 1/2 sendok teh garam ke dalam segelas air hangat.

2. Minum Jus lemon tanpa gula
Campurkan 2 sendok makan jus lemon (dari perasan 1/2 lemon) ke dalam segelas air hangat. Hindari penambahan gula. Minumlah 2-3 kali sehari dalam keadan perut kosong (sekitar 30-60 menit sebelum makan).

Cara ini diyakini bisa meredakan rasa sakit dan iritasi pada tenggorokan. Cairan ini juga akan membersihkan lambung dan menenangkan usus. Lemon kaya vitamin C dan mineral-mineral lainnya yang bersifat alkali. Jangan cemas dengan rasa asamnya. Berlawanan dengan keyakinan umum, lemon tidak meningkatkan kadar asam, bahkan menyembuhkan kadar asam berlebih.

Saat mencapai lambung, efek alkalinya akan meredakan asam berlebih. Lemon ini akan lebih berkhasiat jika dikonsumsi saat lambung dalam keadan kosong. Hindari minum lemon setelah makan karena justru bisa meningkatkan asam lambung.

3. Oleskan minyak kelapa
Minyak kelapa merupakan antimikroba alami. Minyak ini bisa membunuh semua jenis organisme patogen jika dikonsumsi atau dioleskan ke tubuh. Hangatkan 2-3 sendok makan minyak kelapa kemudian pijatkan ke tubuh sekali atau dua kali sehari. Selain itu, bisa juga digunakan saat memasak. Minyak kelapa merupakan sumber energi bagi tubuh.

4. Hindari gula dan semua makanan olahan
Gula akan melemahkan sistem kekebalan tubuh dan memperparah penyakit. Karena itu, ada baiknya dihindari. Makanan olahan yang mengandung karbohidrat olahan, lemak trans, bahan tambahan yang berbahaya bagi kesehatan juga mempunyai dampak yang sama. Jadi, ada baiknya menghindari keduanya.

5. Percepat pemulihan dengan lemon dan jus sayur
Tubuh menghabiskan cukup banyak energi untuk mencerna makanan. Karena itu, ada baiknya Anda menghindari makanan berat dan menggantinya dengan sup, jus sayuran atau lemon tanpa gula. Dengan begitu tubuh bisa menyimpan energi lebih banyak dan menggunakannya untuk melawan penyakit. Tipe diet puasa seperti ini akan mempercepat pemulihan.

Minggu, 11 Maret 2012

ISTILAH ADAT MANGGARAI

ISTILAH-ISTILAH ADAT MANGGARAI


1. Gerap ruha / injak telur
artinya : penerimaan pengantin baru (ata podo) penerimaan pertama kali di kampung tunangan lelaki / orang tua

2. Pentang pitak
artinya : membersihkan debu atau membersihkan adat istiadat di kampung wanita atau ada permasalahan di kampung wanita / orang tua wanita jangan dibawa kepada lelaki atau orang tua lelaki.

3. Beling watau wali
artinya : segala barang dari lelaki / orang tua lelaki atau kedatangan anak rona diberi uang secukupnya atau membalas bawaan berupa babi, beras, atau kain atau pulang pesta traga malam.

4. Saung ta’a = pesta tiga malam

5. Tudak mbukuk = upacara untuk mengikat semua janji agar tidak berubah atau ingkar

6. Compang = tempat untuk persembahanuntuk para leluhur (nenek moyang)

7. Tongka = pembukaan pembicaraan saat meminang seorang perempuan oleh seorang laki-laki.

8. Penti = pembukaan musim tanam dalam tahun perjanjian atau tahun baru

9. Kumpul kope = kumpul uang

10. Kope bakole = persetujuan pinang wanita tidak setuju

Liang Bua

LIANG BUA

A. Pengertian Liang Bua
Liang Bua terdiri dari dua kata, yaitu Liang dan Bua. Liang berarti gua dan bua berarti dingin. Jadi Liang Bua merupakan suatu tempat peninggalan bersejarah pada masa purbakala, dimana atau tempatnya sangat dingin dan sejuk.

B. Letak Liang Bua
Liang Bua terletak di daerah perbukitan kapur di wilayah Kabupaten Manggarai, Flores. Meskipun sebagian besar wilayahnya berupa perbukitan kapur, akan tetapi daerah ini cukup subur, bahkan Manggarai sejak dulu dikenal sebagai salah satu lumbung padi untuk wilayah Flores.
Di samping memiliki potensi sumber daya alam yang menarik, Manggarai ternyata juga memiliki potensi sumber daya arkeologi yang mengagumkan. Hal tersebut dengan adanya arkeologi yang tersebar luas di daerah ini. Salah satu diantaranya adalah situs Liang Bua. Situs ini terletak di desa Liang Bua Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai, sekitar 14 km dari utara kota Ruteng.

C. Penelitian di Liang Bua
Penelitian di Liang Bua pertama kali dilakukan oleh Theodorus Verhoeven, missionaris yang mengajar di Seminari Mataloko, Ngada tahun 1965. Ketika berkunjung di Liang Bua, gua tersebut masih digunakan untuk sekolah bagi anak-anak di sekitar Liang Bua. Hasil penelitian Verhoeven menggambarkan bahwa Liang Bua mengandung jejak kehidupan manusia yang berasosiasi dengan artefak batu dan tembikar.
Setelah Verhoeven, penelitian dilanjutkan oleh Prof. Dr. R.P. Soejono dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (sekarang Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional) tahun 1978 – 1989. Hasil penelitian tersebut memperlihatkan bahwa situs Liang Bua telah dihuni sejak masa prasejarah, mulai dari masa paleolitik, mesolitik, neolitik, hingga masa paleometalik (logam awal). Berdasarkan hasil pertanggalan (dating) C14 dari kedalaman 3 meter diketahui bahwa Liang Bua telah dihuni oleh manusia modern sejak 10.000 tahun yang lalu.
Setelah mengalami kevakuman selama 12 tahun, maka atas prakarasa Prof. Dr. R.P. Soejono (Puslitbang-Arkenas) dan Prof. Mike Morwood (Universitas New England, Australia), diadakan kerjasama untuk melanjutkan penelitian di Liang Bua, antara 2001 – 2004. Selaku koordinator penelitian adalah Thomas Sutikna bersifat imerdisiplioner, melibatkan ahli dari berbagai disiplin ilmu, antara lain: arkeologi, geologi, geomorfologi, geokronologi, paleontologi, palinologi, dsb. Fokus penelitian diarahkan untuk memperoleh gambaran lengkap tentang kepurbakalaan situs Liang Bua. Penelitian gabungan ini melakukan penggalian hingga mencapai kedalaman 10,7 meter tanpa menemukan lapisan gua.

D. Penemuan Bersejarah
Di bawah lapisan tufa vulkanik yang berumur sekitar 11.000 tahun ditemukan lapisan budaya lagi yang mengandung artefak batu dan tulang-tulang binatang seperti stegodon (gajah purba), komodo, kura-kura, tikus, burung, dsb.
Di samping itu, ditemukan pula rangka manusia kerdil yang kemudian diberi nama Homo Florensiesis di kedalaman 6 meter yang berasal dari sekitar 18.000 tahun yang lalu. Manusia kerdil ini berjenis kelamin perempuan berumur sekitar 30 tahun, tinggi sekitar 106cm, volume otak sekitar 380cc (dibandingkan dengan otak manusia modern yang minimum memiliki volume otak 1200cc). Secara keseluruhan, lapisan yang mengandung temuan-temuan tersebut berumur antara 95.000 – 12.000 tahun yang lalu.
RUTUNG AGU WELA TIMUNG

Dahulu kala, ada seorang gadis yang mempunyai seorang kakak yang bernama Wela Timung. Wela Timung bersuamikan ata maeng mese “penjudi kelas kakap”. Jika kala berjudi suaminya marah-marah. Karena terus menerus kalah judi, suaminya menjual kekayaannya seperti kerbau, kuda, sapi, dan juga tanah. Setelah semua itu ludes, lelaki biadab itu minta perhiasan istrinya untuk digadaikan. Demi kasih sayang kepada suami, Wela Timung memberikan semua perhiasannya. Itupun belum cukup. Terakhir, suami yang semakin biadab itu menjual istrinya kepada orang kaya. Pasti, istri yang beradab ini tidak mau. Prinsipnya lebih baik mati daripada diperlakukan sebagai binatang oleh suami sendiri. Karena itu, suami memukul dan menendang Wela Timung sampai mati.
Adiknya yang berniat mengunjungi Wela Timung sangat terkejut ketika kakaknya sudah menjadi mayat. Suami Wela Timung dan komplotannya segera mengikat gadis itu pada tiang di kolong rumah. Saat itulah seekor rutung yang jumlahnya jutaan itu segera menggali terowongan sebagai jalan bagi si gadis. Si gadis pun selamat sampai di rumah orang tuanya. Namun pada saat yang sama, arwah kakaknya tidak di rumah yang sama. Gadis itu berteriak histeris sambil memberitahukan kematian kakaknya hingga arwah itu menghilang. Untuk balas jasa kepada rutung, orang tua gadis itu dan semua turunannya bersumpah untuk tidak makan daging rutung. Itulah sebabnya turunan tersebut ceki rutung tidak makan landak.
NGGOR MATA LESO

Dahulu kala hiduplah seorang putra raja. Namanya Nggor Mata Leso. Ia disuruh ayahnya untuk mengunjungi keluarga pamannya. Amang “paman/saudara dari ibu” mempunyai dua anak gadis: Timung Te’e dan Welarunu. Untuk itu, putera raja naik kuda dan seorang mendi “hamba” bernama Ndiwa Lako Bali mengerek kuda.
Tibalah mereka di suatu kali yang dekat dengan kampung si paman. Nggor Mata Leso mandi dan pakaian mewahnya diletakkan di atas batu. Ketika ia sedang mandi, hambanya meninggalkan pakaian lusuhnya lalu mengenakan pakaian mewah putera raja. Setelah itu, si hamba segera menunggang kuda untuk menuju rumah paman.
Hamba yang kurang ajar itu masuk ke rumah paman putera raja dan memperkenalkan diri sebagai putera yang bernama Nggor Mata Leso. Tanpa hati-hati, keluarga paman menyambutnya dengan ramah dan sopan. Timung Te’e tampak sangat cerita karena bakal menjadi istri putera bangsawan. Tidak lama kemudian, datanglah Nggor Mata Leso yang sebenarnya tetapi tidak disambut secara ramah. Malam itu Nggor Mata Leso makan kulit ketela rambat dan tidur beralaskan tikar tua di dekat sangkar ayam. Walau diperlakukan sebagai hamba, Nggor Mata Leso tidak menolaknya. Ketika orang tua Timung Te’e berbicara dengan Ndiwa Lako Bali, diam-diam Welarunu memperhatikan wajah lelaki itu yang tampak tua dan kehitam-hitaman.
Keesokannya tatkala mentari pagi belum terbit, Welarunu pergi ke ladang untuk riang peti (usir burung yang mengganggu tanaman). Diam-diam Nggor Mata Leso mengikuti Welarunu. Di ladang mereka bercerita tentang segalanya. Kedua anak manusia itu pulang ke kampung setelah mentar terbenam. Sampai di rumah, Nggor Mata Leso masih diperlakukan sebagai hamba oleh pamannya. Timung Te’e bersikap masa bodoh terhadap putera raja tersebut. Hanya Welarunu yang tidak peduli terhadap Ndiwa Lako Bali.
Hari berikutnya karena ada caci, Welarunu tidak pergi ke ladang. Ia bersama gadis lain, termasuk kakaknya yang bernama Timung Te’e, pukul gendang. Ndiwa Lako Bali bermain caci, tetapi tiada seorang pun berani menantang “putera bangsawan”, kecuali Nggor Mata Leso. Diambilnya larik “cambuk yang terbuat dari kulit kerbau” lalu dipukulnya kepada Ndiwa Lako Bali. Baru sekali pukul, ujung larik mengena pada bagian mata Ndiwa Lako Bali yang langsung pingsan.
Setelah Ndiwa Lako Bali sadar kembali, ia mengakui kesalahannya kepada warga kampungl. Orang-orang sangat heran dan Timung Te’e sangat marah karena ditipu seorang mendi. Maka ketika Ndiwa Lako Bali masuk ke rumah si paman, pemilik rumah langsung mengusirnya seperti anjing. Si penipu itu pun pergi entah ke mana dengan menanggung rasa malu.

Selasa, 21 September 2010

UPACARA ROKO MOLAS

UPACARA ROKO MOLAS POCO

A. Apa itu upacara Roko Molas Poco?


Dilihat dari segi kata, Roko berarti mengambil, Molas diidentikkan dengan wanita cantik dan Poco berarti gunung.
Upacara ini merupakan upacara pengambilan kayu di hutan yang digunakan sebagai tiang utama dalam pembuatan rumah adat (mbaru tembong).
Dalam upacara ini “Molas Poco” yang diambil untuk dijadikan tiang utama (Siri Bongkok) yang akan dibuat dan diletakkan di tengah-tengah rumah adat yang akan dibuat; dan rumah adat yang akan dibuat tersebut berbentuk kerucut dan bagian ujung atas rumah dipasang tanduk kerbau (rangga kaba).

B. Tahapan-tahapan dalam pelaksanaan upacara Roko Molas Poco

1. Tahap Perencanaan
Pada tahap ini tokoh-tokoh adat (tu’a golo, tu’a teno) mengundang anggota masyarakat, berkumpul di halaman kampung (natas) untuk mengadakan musyawarah dalam rangka pembuatan rumah adat (mbaru tembong).

2. Tahap Pelaksanaan
Pada tahap ini, anggota masyarakat maupun tokoh-tokoh adat dibagi dalam dua kelompok, yaitu kelompok Roko Molas Poco (kelompok yang akan pergi ke hutan untuk mengambil kayu tersebut) dan kelompok sundung/curu molas poco (kelompok yang akan menjemput Molas Poco tersebut). Upacara Roko Molas Poco ini diawali dengan acara teing hang atau pemberian sesajian di altar sesajian (compang) yang dipimpin oleh tu’a golo.
Setelah upacara “teing hang” selesai, barulah kelompok “Roko Molas Poco” berangkat ke hutan (puar) dengan membawa ayam (manuk), tuak, kapak (cola), parang (kope), serta alat-alat lain yang dibutuhkan saat upacara tersebut berlangsung.
Setiba di hutan, kelompok “Roko Molas Poco” beserta tu’a golo duduk menghadap pohon yang akan dijadikan sebagai “Molas Poco” atau “Siri Bongkok”. Kemudian tu’a golo, menyampaikan permohonan atau kepok atau torok tae kepada roh-roh, arwah-arwah nenek moyang.
Setelah torok tae tersebut selesai barulah kayu tersebut dipotong dan “Molas Poco” tersebut diusung ke kampung oleh kelomppok Roko. Sesampainya di dekat kampung (Pa’ang beo) kelompok Roko Molas Poco tersebut dijemput (sundung/curu) oleh kelompok penjemput, dengan diiringi tarian-tarian dan dilanjutkan torok/kepok sundung/curu.

C. Pihak-pihak yang terlibat
Pihak yang terlibat dalam upacara Roko Molas Poco yaitu tokoh-tokoh adat (tu’a golo, tu’a teno) serta seluruh anggota masyarakat yang bertempat tinggal di wilayah tersebut.
Keterlibatan tu’a golo, tu’a teno dalam upacara ini sebagai orang yang memimpin upacara Roko Molas Poco dan juga sebagai orang yang menyampaikan torok/kepok saat upacara berlangsung.
Keterlibatan anggota masyarakat yaitu sebagai orang yang mengambil (Roko) serta menjemput (curu/sundung) “Molas Poco” atau “Siri Bongkok” bersama tu’a teno dan tu’a golo.

D. Apa saja yang dibutuhkan untuk upacara tersebut?
Yang dibutuhkan dalam upacara “Roko Molas Poco” ini diantaranya adalah ayam (manuk), moke (tuak), kapak (cola), serta parang (kope).

E. Dimana acara itu dilakukan?
Acara “Roko Molas Poco” ini dilakukan di halaman kampung (natas) dan pengambilan “Molas Poco” (Roko Molas Poco) dilakukan di hutan (puar).

F. Kapan acara itu dilakukan?
Acara “Roko Molas Poco” ini dibuat dalam rangka pembuatan rumah adat (mbaru tembong).

G. Mengapa acara itu dilakukan?
Acara “Roko Molas Poco” ini dibuat karena merupakan warisan leluhur. Dan tujuan upacara ini dibuat agar rumah adat atau mbaru tembong yang akan dibuat tetap kokoh, serta memberikan ketentraman bagi warga yang mendiami kampung tersebut.