Senin, 24 November 2014

Berhentilah Menjadi Gelas

(Cerita Seorang Guru Sufi dan Muridnya)

Kadang kita hidup ini seperti roda, kadang diatas kadang dibawah. Banyak problem yang harus kita hadapi dan kadang kita putus asa karena tidak sanggup menghadapi masalah.
Inilah Cerita Seorang Guru Sufi dan Muridnya :
Seorang guru Sufi mendatangi seorang muridnya ketika wajahnya belakangan ini selalu tampak murung.
Kenapa kau selalu murung nak ? Bukankah banyak hal yang indah didunia ini?  sang guru bertanya.
Guru, belakanan ini hidup saya penuh masalah. Sulit bagi saya untuk tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya,  jawab sang murid muda.
Sang guru terkekeh.  Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam. Bawalah kemari. Biar kuperbaiki suasana hatimu itu.   Si muridpun beranjak pelan tanpa semangat. Ia laksanakan permintaan gurunya itu, lalu kembali lagi membawa gelas dan garam sebagaimana yang diminta.
Coba ambil segenggam garam itu dan masukan ke dalam segelas air,  kata sang guru.  Setelah itu coba kamu minim airnya sedikit.
Si muridpun melakukanya. Wajahnya kini meringis karena meminum air asin. Bagaimana rasanya?  Tanya sang guru.  Asin dan perutku jadi mual, jawab si murid dengan wajah masih meringis. Sang Guru tersenyum melihat wajah muridnya yang meringis keasinan.
Sekarang kamu ikut aku. Sang guru membawanya ke danau di dekat mereka. Ambil garam yang tersisa dan tebarkanlah ke danau. Si murid menebarkan segenggam garam sisa ke danau tanpa bicara apapun. Rasa asin dimulutnya belum hilang. Ia ingin meludahkan rasa asin dimulutnya, tapi tak dilakukanya. Tak sopan rasanya meludah di hadapan mursyid.
Sekarang coba kamu minum air danau itu, kata sang guru sambil mencari batu yang cukup datar untuk didudukinya, tepat dipinggir danau. Si murid menangkupkan kedua tangannya , mengambil air danau dan meminumnya. Ketika air dingin segar mengalir di tenggorokanya, sang Guru bertanya, Bagimana rasanya?
Segar, segar sekali, kata simurid sambil mengelap bibirnya. Tentu saja air danau ini berasal dari sumber mata air diatas sana. Dan airnya mengalir menjadi sungai kecil dibawah.  Terasakah rasa garam yang kau taburkan?  tanya sang Guru.  Tidak sama sekali, kata si murid sambil mengambil air minumnya lagi. Sang Guru hanya tersenyum dan membiarkan muridnya mengambil minum sampai puas.
Nak, kata sang Guru setelah muridnya selesai minum. Segala masalah dalam hidup ini seperti segenggam garam. Tidak kurang, tidak lebih. Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang kau hadapi dalam hidupmu itu  dikadar oleh Allah, sesuai untuk dirimu. Jumlahnya tetapi segitu-gitu aja tidak berkurang dan tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia inipun demikian. Tidak ada satupun manusia,walau dia seorang nabi yang terbebas dari penderitaan dan masalah.
Si murid terdiam mendengarkan. Tapi Nak, Rasa ‘asin’ dari penderitaan yang dialami itu sangat tergantung dari besarnya ‘qalbu’(hati) yang menampungnya.
Jadi Nak, supaya tidak merasa menderita, Berhentilah Menjadi Gelas. Jadikan qalbu dalam dadamu itu sebesar danau.
Sahabat, terkadang masalah yang kecil menjadi besar tatkala hati kita sempit. Banyak sekali kita menyaksikan dalam perjalanan hidup kita ada orang saling bunuh hanya karena masalah yang kecil. Masalah yang kecil itu menjadi besar tatkala hatinya sempit.
Perbesarlah ruang hati kita dan jadilah lebih bijaksana dalam menghadapi masalah. Niscaya solusi akan terhampar seiiring dengan terhapar luarnya ruang hati kita. Dan yang paling penting Tetap Semangat dan Selalu Optimis.
Semoga bermanfaat.

Rabu, 23 Juli 2014

Sepucuk Surat dari Ayah dan Ibu



Anakku

Suatu ketika tiba waktunya aku menua,kumohon engkau mau memahamiku.Seperti saat aku menumpahkan segelas teh hangat yang kau berikan padaku di meja.Kekuatan tanganku pelan-pelan melemah,nak!Jangan kau bentak-bentak aku jika aku suka melakukan apa-apa yang aku suka,tanpa mempedulikan ini salah atau benar menurutmu,karena aku mudah lupa.Ulangilah perkataanmu jika aku tak mendengar apa yang kau katakan atau mungkin kau bisa menuliskannya di kertas.Maklum orang tua pendengarannya sudah dungu.
Penglihatanku juga sudah tak jelas ,maafkanlah aku tak bisa mengenalimu satu-persatu.Tapi aku masih ingat kok waktu kecilmu ,kau memamerkan gambar dari tulisan tanganmu,kau memamerkan mainan dan memamerkan pakaian-pakaian barumu.Maafkanlah jika bauku seperti bau orang tua,aku yang malas mandi .Orang tua sangatlah sensitive tehadap air dingin,kuminta kau mau sabar mengelap badanku yang tinggal tulang dan kulit ini.
Setiap aku berjalan,kuminta kau mau menatihku nak,seperti dulu aku mengajarimu berjalan.Sabar ya nak jika langkahku ini sangat pelan,sekali lagi sabaarlah…Suapilah aku dengan bubur atau makanan yang lembut sebab aku tak ber-gigi lagi seperti waktu dulu aku menyuapimu dengan semangkuk kecil bubur buatanku sendiri,yang hanya bercampurkan nasi dan garam diatas tungku kayu api…
Sempatkanlah barangkali sejenak,untuk bercengkrama denganku .Aku selalu dalam keadaan sendiri dalam sepanjang waktuku.Kau lebih sering sibuk bekerja.Sekalipun aku tak menarik buatmu.Biarpun aku sudah tak punya cerita untukmu .Janganlah kau merasa bosan denganku yang memintamu mengulangi kata-katamu berkali-kali,sebab aku sulit memahami apa pintamu kepadaku.Ingatlah dulu waktu kamu memintaku untuk memainkan layang layang,kau memintanya berkali-kali sampai aku benar-benar mau memainkanya untukmu…
Aku harap kau mau mendengarkanku,nak!
Ketika tiba saatnya aku terbaring sakit,kuharap kau mau merawatku .Mungkin beberapa saat sebelum aku menghabiskan waktu hidupku.Aku yang akan mengompol dan mengobrak-abrik  membuat berantakan saja.Aku harap kau akan memegang tanganku untuk menguatkanku menghadapi kematian.Dan jangan khawatir ketika aku menghadap Sang Pencipta,aku akan mengatakan pada-Nya bahwa kamu mencintai Ayah dan Ibu.

Sumber: http://fiksi.kompasiana.com

Kamis, 17 Juli 2014

Pande Compang Ruteng



Lut tae data tu’a: compang Ruteng pande le darat. Lete empo dami mai pe’ang main, weta diha wai agu darat sale mai Gili-Banta. Darat hitu mai agu winan. Dade taung agu rutung. Nenggitu empo dami jera ise pande compang. Mai tae de darat hitu: “Na’a pe’ang taung ngkiong-ala = acu one mai beo.” Rutung situ elong waktu, darat ata tenan. Poli panden sangged like, pande kole paran telu (tempat melihat musuh). Darat hitu mai rei : “Kesa!” “Co’o kesa.” “Pande haeng len ko?” “Eng,” tae de empo dami. Reme nenggitun ang acu. Tae de darat hitu: “O kesa, kali manga kin ngkiong-ala. Ami kolekm ga. Ami rantang keta.” Tae de wetan: “Hang le hau mina ho’o.” Hang tu’ung le empo daku kali mina rujung. Ali hang mina rujung emo dami, wa’u dami kanang ata lelakn lata. Dengkin te ho’on ami toe hang rutung. Hitu mawa, ai poli pande compang Ruteng le rutung.

Sumber: Manggarai Texts V, Verheijen, SVD, Propinsi SVD Ruteng 1978

Tombo ca anak koe ata oke le eman

Manga ca anak koe ata belek. Ca leso, mai tae de eman ngong enden: “Co’om oke lite anak koe ho’ot belek.” Poli hitu oke lise. Ise ba anak koe hitu nggerone ca liang. Agu bokong anak koe hitu latung bombo. Widang le eman anak koe hitu ca acu koe. Cai one liang hitu rening lise anak koe hitu. Woko toko temo anak koe hitu, koles ise ga one mbarud.

Ca-ca gula denge liha runing ngkiong. Mai tae danak koe hitu: “hitu acu dema daku.” Mai taed suad ine wai darat: “Oekn-e; acu-acu bon runing ngkiong.” Mai tae danak koe hitu: “Ai acu dema daku ga?” Woko leso pedek hia hang latung bombo. Agu woko recis, tei liha te hang dacu koen. Agu woko toko anak koe hitu, ba line-wai darat situ hang latang te hia. Woko to’o hia hangs liha hang situ. Agu taen: “I…., ho’os hang ba dema daku.” Denge liha tawa dine-wai darat situ. Mai tae diha: “Co’o tara tawas meu?” mai tae dine-wai situ: “Tawa bogm.” Maik toe itas wekid liha. Woko neho diang gula denge kole liha runing ngkiong. Mai kole taen: “Hitu acu dema daku.” Wantil dine-wai darat situ: “Oekn-e, acu-acu bon runing ngkiong.”

Ca wulang musi main tu’a hia ga. Agu acu koen bece agu mese gi. Woko lima ntaung umurn anak koe hitu, ngo hia bang acu. Woko kole hia itas liha hang one liang hitu. Agu hia hangs hang situ. Woko tu’a gi, ngapeng liha ine-wai situ, agu haengs liha. Mai tae dine-wai situ: “Co’om agu hau kami, nana!” mai tae diha: “Eng demeng!” agu nekis ise ga.

Denge lise one beo manga rame, agu ise ngo landang. Agu dumuk manga mendi do dise. Cai one pa’ang ise ronda. Agu latang lise one mai. Mai dae deman: “Keraeng nimai so’o yo?” Mai tae diha keraeng one mai: “Tapa ta! Ho’o mbe utengs-o, keraeng.” Mai tae de keraeng hitu: “Asa peng ema daku no’o ta de?” Mai tae de eman: “Ai nimaid ite leng ta, keraeng?” Mai taen: “Danong aku oke le emag.” Agu eman hitu rantang. Mai tae diha: “Neka rantang ta, ema.”Poli hitu ise ka’eng neki ca. agu ise bora keta.

Sumber: Manggarai Texts V, Verheijen, SVD, Propinsi SVD Ruteng 1978